Tips Aman dan Sehat Susui Bayi Saat Pandemi

Produk Bayi Terbaik – Menyusui bayi saat pandemi Covid-19, mengapa tidak? Hal itu justru mesti dilakukan untuk menambah antibody pada bayi. Bagaimana cara menyusui yang aman dan sehat selama pandemi?

Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Tengah Rachmadani, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo, membeberkan tipsnya, melalui siaran langsung Instagram pada akun @aimijateng dan @atikoh.s, Kamis (6/8/2020). Menurutnya, saat masa pandemi atau darurat seperti sekarang, ASI merupakan pemberian asupan makanan untuk bayi yang paling baik. Sebab, ASI mengandung hormon pertumbuhan, antibodi, antivirus, hingga antibakteri. Bahkan, ibu yang tengah sakit pun, tubuhnya membentuk antibodi yang juga terkandung dalam ASI-nya.

“Itu ada hormon cintanya yang juga akan bekerja optimal, bonding (ikatan emosional) luar biasa,” ujar alumnus Univeristas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Ditambahkan, jika ibu tidak terinfeksi virus Corona, saat menyusui tidak perlu mengenakan masker atau faceshield. Cukup cuci tangan pakai sabun, dan menjaga kebersihan tubuh, termasuk pada area payudara.

Menurut Rachmadani, perlakuan pemberian ASI tersebut akan berbeda bila ibu dinyatakan positif Covid-19. Maka mutlak, ibu harus melakukan protokol kesehatan saat melakukan pemberian ASI kepada bayinya. Seperti, mengenakan masker, faceshield, serta makin rajin cuci tangan.

“Kalau ibu positif (positif Covid), harus pakai masker, cuci tangan, atau faceshield, cuci tangannya jangan lupa,” sambungnya.

Saat berada di tempat umum, Rachmadani menyarankan agar ibu menyusui langsung anaknya di tempat menyusui yang telah disediakan. Hindari memberikan ASI perah dengan botol karena risiko kontaminasinya pun besar. Namun, dia tetap meminta agar ibu tidak membawa bayinya keluar rumah saat pandemi Covid-19 seperti sekarang.

Diakui, setiap ibu pasti mau menyusui asal tahu ilmunya, dan mendapat dukungan. Ibu bisa menghasilkan ASI yang bagus selama mau imunitasnya baik. Caranya antara lain dengan menjaga gizi seimbang. Selain juga diperlukan istirahat yang cukup, rutin setiap hari melakukan olahraga sekitar 30 menit, serta medapatkan cukup vitamin D.

Meski demikian, kata Rachmadani, persoalan agar ibu bisa menyusui dengan baik memang masih terbentur beberapa permasalahan. Seperti kurangnya ilmu. Maka si ibu bisa mempelajarinya dengan mencari pengetahuan di media sosial, sampai gabung dalam komunitas bersangkutan.

“Sekarang dunianya medsos, jadi bisa belajar. Beberapa banyak ilmu kalau tidak didukung lingkungan, semua sudah tak berguna,” ucapnya.

Aktivitas menyusui juga membutuhkan dukungan, sehingga merasa dicintai, didengar, dan dibantu. Dukungan dimulai dari suami, lingkungan orang sekitar, dan juga lingkungan di luar seperti di tempat kerjanya. Dia menjelaskan untuk dukungan suami seperti dalam bentuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di saat ibu menyusui bayi. Dukungan orang sekitar seperti anggota keluarga yakni mereka ikut membantu pekerjaan di saat ada anggota lainnya menyusui. Sedangkan dukungan di tempat kerja bila si ibu memang bekerja di luar.

“Tidak hanya menyediakan tempat memerah ASI, tapi juga kalau pamit pumping jangan di-bully, disindir-sindir, tuh kan betul, kerja ditinggal-tinggal. Itu bisa membuat ibu menyusui stress. Pemberi kerja peting untuk tahu menyusui eksklusif punya manfaat untuk perusahaan. Ibu happy, anak sehat, produktivitasnya juga baik karena jarang izin,” beber Rachmadani.

Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo. Dia menilai, pemberian ASI merupakan hal paling penting demi perkembangan anak bangsa yang berkualitas. Sebab, fungsi ASI juga membentuk SDM berkualitas, sehingga Indonesia tambah maju. Maka sudah semestinya semua pihak memberikan dukungan agar bayi bisa mendapatkan ASI dengan cukup.

Dia menceritakan dukungan dari pimpinannya saat menyusui anak semata wayangnya Muhammad Zinedine Alam Ganjar, yang memberikan kesempatan kepadanya untuk memerah ASI