Solar Industri Banjiri Pelabuhan Perikanan Belawan

Akibat murahnya harga minyak solar industri di bandingkan minyak solar dengan menggunakan Flow Meter Solar bersubsidi membuat para pebisnis kapal ikan, terutama kapal pukat trawl di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) manfaatkan minyak solar industri.

Pada perihal diketahui, Pemerintah Indonesia udah melarang pukat trawl untuk beroperasi di perairan Indonesia sesuai dengan Undang-undang Perikanan dan Keputusan Presiden.

Karena pukat Trawl merupakan tidak benar alat penangkap ikan yang dilarang tetapi hingga saat ini aktivitasnya makin lama merajelela supaya membuat nelayan tradisional dan nelayan berskala kecil sengsara sebab tidak sanggup meraih ikan yang banyak.

Menurut Putro, 49, warga Bagan Deli menjelaskan hampir tiap-tiap harinya, belasan mobil tanki Pertamina bertuliskan Solar Industri nampak masuk ke Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) Gabion Belawan untuk menyuplai minyak solar kepada kapal-kapal ikan, terutama kapal ikan yang mengunakan alat tangkap Trawl. Salah satunya PT PAA milik pebisnis BBM berinisial In.

“Sejak masa pademi Covid-19, harga minyak solar industri turun di Pelabuhan Perikanan Belawan supaya para pebisnis kapal ikan, terutama kapal ikan pukat Trawl berlomba-lomba membeli minyak solar industri tersebut. Kalau tidak tidak benar harga minyak solar industri di Pelabuhan Perikanan Belawan mencapai Rp 4150, sedang solar bersubsidi harganya Rp 5150,” sebut Putro.

Putro memberikan bahwa koordinator pukat Trawl bernama Abi, tak sekedar punyai pengaruh yang besar di Pelabuhan Perikanan Belawan termasuk dekat dengan aparat penegak hukum di laut supaya dengan leluasa, Abi mengkordinir pebisnis perikanan yang punyai alat tangkap Trawl.

Putro berharap kepada aparat penegak hukum untuk sanggup menertibkan mobil tangki bertuliskan Solar Industri yang dikira minyak solar Ilegal dan menindak kapal ikan yang punyai alat tangkap yang dilarang terutama Pukat Trawl.