Kemampuan yang Mesti Dimiliki Pemandu Wisata Virtual

Situasi pandemi virus corona menuntut pelaku industri pariwisata memutar otak untuk menghadirkan virtual tur ke sejumlah destinasi. Inisiasi ini dikerjakan sehingga para wisatawan senantiasa mampu datang ke destinasi lewat virtual di tengah pandemi.

Tentunya ini jadi tantangan tersendiri bagi pelaku pariwisata. Terutama bagi para pemandu wisata, yang jadi tidak benar satu ujung tombak untuk memperkenalkan suatu destinasi.

Oleh gara-gara itu, Co Founder Autorin, Reza permadi , yang berfokus pada teknologi di dalam industri pariwisata berkelanjutan mengatakan bahwa para pemandu wisata memerlukan kebolehan spesifik untuk mampu beradaptasi bersama suasana pandemi saat ini.

“Skill pembeda pertama kepercayaan diri, awal banyak teman-teman pemandu wisata yang ngomong langsung, ini dia ngomong wisatawannya kan di mute kadang dia tidak percaya diri nanti engga ada yang ngomong, itu tidak benar satu keahlian,” ungkap Kemampuan lain yang juga wajib dimiliki ialah interpretasi. Reza menjelaskan, bahwa kebolehan untuk mampu menarasikan dan mengartikan suatu destinasi jadi kunci saat memandu wisata virtual tour.

“Karena tidak langsung di lokasi pemandu wisata wajib mampu menceritakan kendati cuma sekadar gambar ini gunung apa pantai apa, dan harganya dan lain sebagainya yang wajib dipertahankan dan diperkenalkan berasal dari wisatawan virtual kan mencari informasi,”ujar Reza.

Pada sesi tertentu, nantinya para wisatawan virtual juga mampu mengajukan pertanyaan berkaitan bersama destinasi yang mereka kunjungi. Salah satu yang lumayan menarik, bahwa ternyata wisatawan juga mampu membeli oleh-oleh secara virtual.

Jastip oleh-oleh tentu senantiasa ada yang membeli oleh oleh ada yang jualan oleh oleh apa mereka ada aja yang membeli bahkan misalkan jalan-jalan ke Yogyakarta atau misal ke Sumba, banyak sekali yang membeli oleh-oleh.

Sebelumnya, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf / Baparekraf, Muhammad Neil El Himam juga mengatakan bahwa konsep interaktif diangkat sehingga tidak menghilangkan sensasi dan pengalaman yang didapat wisatawan dikala berwisata secara langsung.

Neil mengatakan, kendati tur diikuti lewat aplikasi konferensi video, tetapi peserta mampu berinteraksi bersama pramuwisata yang dapat memandu langsung berasal dari obyek wisata.

Sebagai tindak lanjut kegiatan daring “Transformasi Digital: Tur Virtual Interaktif”, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya, mengatakan Kemenparekraf juga dapat memfasilitasi pelatihan dan pendampingan secara daring di dalam membawa dampak tur virtual bagi pramuwisata serta pengelola desa wisata sepanjang 10 hari untuk setiap batch.

Dalam periode pertama ini dapat dikerjakan sebanyak 5 batch bagi lokasi Kalimantan, Sulawesi, Bali,Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Batch pertama dapat di awali pada 26 Agustus 2020 bersama perkiraan selesai total batch pada awal Oktober 2020.

Sedangkan lokasi anggota barat dapat dikerjakan pada periode ke-2 bersama saat yang dapat diberitakan lebih lanjut.