Angklung Jadi Google Doodle, Begini Sejarah dan Jenis-jenisnya

Jika detikers membuka laman pencarian Google pada hari ini, Rabu (16/11/2022), maka akan muncul ikon enam orang kartun yang tengah memegang angklung. Tema angklung pada Google Doodle hari ini dimaksudkan sebagai peringatan hari angklung sedunia.
Google Doodle sendiri adalah logo atau tampilan yang diberikan Google pada laman pencarian untuk mengenang tokoh penting, perayaan hari libur tertentu, serta hari-hari besar seperti sekarang ini.

Diperingati di seluruh dunia, bagaimana sejarah kemunculan alat musik tradisional angklung?

Sejarah Angklung
Melansir dari laman Kebudayaan Kemdikbud, angklung telah ada di Tatar Sunda sejak zaman Kerajaan Sunda. Dalam catatan orang Eropa yang melakukan perjalanan ke Tanah Sunda pada abad ke-19 mengatakan bahwa di daerah tersebut sering terlihat “permainan” angklung oleh orang-orang setempat.

Angklung juga dikenal di daerah lain seperti Pulau Jawa, namun di tanah Sunda alat musik tersebut lebih populer. Bahkan, di Jawa Barat sendiri angklung telah ada sejak abad ke-7.

Penamaan alat musik angklung diambil dari Bahasa Sunda yaitu “angkleung-angkleungan”, karena ketika digetarkan, angklung mengeluarkan bunyi “klung”.

Namun, secara etimologis, angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Kalau digabungkan berarti angklung bermakna sebagai nada yang pecah atau tidak lengkap.

Sejarah angklung mengalami perjalanan yang panjang, mulai dari perubahan bentuk, fungsi, hingga perubahan nada. Meski begitu, angklung di era ini memiliki ragam jenis dan irama yang jadi ciri khas tersendiri bagi alat musik tradisional itu.

Kesenian angklung diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Angklung dideklarasikan sebagai budaya Indonesia pada 16 Januari 2011 silam.

Jenis-jenis Angklung Tradisional

1. Angklung Kanekes
Angklung Kanekes umumnya dimainkan oleh masyarakat Kanekes atau Baduy di daerah Banten. Nah, angklung jenis ini, kerap digunakan pada upacara tradisional, seperti aktivitas pertanian, bukan semata sebagai hiburan.

Permainan angklung ini berkaitan erat dengan ritus padi. Memainkan angklung di luar ritus padi haruslah sesuai dengan aturan aturan adat, seperti angklung hanya boleh ditabuh hingga masa ngubara pare, yaitu sekitar tiga bulan sejak ditanamnya padi.

2. Angklung Dogdog LojorAngklung jenis Dogdog Lojor dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, sekitar Gunung Halimun.

Istilah Dogdog Lojor berasal dari nama salah satu instrumen dalam tradisi tersebut. Angklung Dogdog Lojor digunakan sebagai pengiring ritual bercocok tanam.

Selain itu, kesenian Dogdog Lojor juga dipakai sebagai pengiring khitanan dan perkawinan. Pada kesenian ini, terdapat dua instrumen Dogdog Lojor dan empat instrumen angklung besar.

Keempat angklung tersebut dinamai Gonggong, Panembal, Kingking, dan Inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh satu orang, jadi jika ditotal jumlah pemainnya sebanyak 6 orang.

3. Angklung Gubrag
Di kampung Cipining, Bogor, terdapat kesenian angklung yang disebut dengan Angklung Gubrag. Usia angklung ini terbilang sangat tua dan digunakan sebagai kelengkapan upacara penghormatan terhadap dewi padi.

Adapun, kegiatan tersebut terdiri dari melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

4. Angklung Badeng
Selanjutnya ada kesenian Angklung Badeng yang digunakan sebagai instrumen utama. Kesenian ini terdapat di Desa Sanding, Garut.

Dalam sejarah perkembangan Islam, Angklung Badeng kerap digunakan untuk kepentingan dakwah dan hiburan. Namun, di kesenian Badeng, angklung menjadi pengiring ritus bercocok tanam.

5. Angklung Buncis
Angklung Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan di Desa Baros, Kabupaten Bandung. Angklung jenis ini mulanya berfungsi sebagai kelengkapan penyelenggaraan upacara pertanian.

Pemakaian Angklung Buncis banyak mengalami perubahan. Sejumlah kalangan menyebut pada tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual Angklung Buncis dalam ritual penghormatan padi, sejak itu Angklung Buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan.

Nah itulah sejarah mengenai angklung beserta jenis-jenisnya. Semoga informasi di atas dapat menambah wawasan detikers ya!

Referensi; https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6409158/angklung-jadi-google-doodle-begini-sejarah-dan-jenis-jenisnya